Tesis Pak Hasan

27 11 2007

BAB IPENDAHULUAN A.     Latar Belakang MasalahPancasila sebagai dasar falsafat Negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia, memuat nilai-nilai luhur yang telah menjadi milik bersama seluruh rakyat Indonesia sejak abad-abad lamanya, Presiden Soeharto pada peringatan hari lahir Pancasila, tanggal 01 Juni 1967 menyatakan :“Dasar falsafah Negara ini jelas diterima oleh seluruh rakyat Indonesia, oleh karena itu ia juga merupakan dasar falsafah Negara yang mampu mempersatukan seluruh rakyat”.Dengan kata lain bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila telah ada dan dimiliki sejak adanya bangsa Indonesia, hidup subur dalam hati sanubari, watak dan kepribadiannya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.Langkah yang paling tepat untuk menanamkan nilai-nilai moral yang ada di Pendidikan Kewarganegaraan kepada siswa dan generasi, muda sebagai penerus bangsa adalah dengan jalur pendidikan, baik pendidikan formal (sekolah) maupun pendidikan non formal (luar sekolah) yang dapat berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah serta lapisan masyarakat. Sebab pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga dan masyarakat. Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat pembinaan pendidikan diarahkan agar menjadi lingkungan yang benar-benar dijiwai oleh nilai-nilai moral Pancasila. Sedangkan dalam lingkungan sekolah sebagai sarananya adalah melalui pengajaran bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan.Sehingga nilai-nilai, norma, sikap dan tingkah laku dalam Pendidikan Kewarganegaraan benar-benar menjadi milik seluruh rakyat Indonesia dari generasi ke generasi berikutnya. Ketetapan MPR RI No. II/MPR/ 1978 menyatakan bahwa dalam rangka melaksanakan Pendidikan Nasional perlu diambil langkah-langkah memungkinkan penghayatan dan pengamalan Pancasila seluruh lapisan masyarakat. Di samping itu pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraanan mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta.Dengan demikian dalam usaha melestarikan nilai-nilai Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan telah menduduki tempat yang strategis dalam konstelasi pendidikan Nasional.Akan tetapi kenyataaannya bahwa kemungkinan siswa belum menyadari dan menghayati nilai-nilai yang ada di Pendidikan Kewarganegaraan. Akibatnya di setiap sekolah negeri maupun swasta dalam kegiatan belajar mengajar sering kita dapati perbuatan sebagian siswa yang bertentangan dalam ketentuan atau aturan yang ada di sekolah tersebut.Kalau kenakalan mulai menjadi fenomena sosial dan kultural di kalangan anak-anak didik, atau kriminalitas dengan kekerasan (violence crime) dan bahkan anarkisme dijadikan sebagai simbol dan jaringan heroistik mereka (remaja/anak-anak didik) itu, maka tentulah ada yang salah dalam bangunan kehidupan ini, tentu ada yang rawan dalam konstruksi keluarganya, ada yang rancu dalam menyikapi tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara, atau mengapa suatu perilaku disnormatifitas atau kontra yuridis dijadikannya sebagai simbol gaya hidupnya?.Anak memang mudah disalahkan dan bahkan dikorbankan, meskipun seharusnya tidak demikian, sebab, didalam pertumbuhannya yang sangat mungkin berhadapan dengan situasi yang tidak disukai dan bertentangan dengan keinginan­keinginannya, anak dapat terperangkap dalam perilaku yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Anak hanya memilih apa yang disukai, apa yang mempengaruhi dan menyenangkannya (memenuhi emosi dan kebutuhan psikologisnya).Mustahil mereka senang menjerumuskan dirinya dalam perilaku yang merugikan kalau tidak ada faktor pendukung dan pelicin yang membuatnya sampai menjadi anarkis. Mereka hanyalah subordinat dari suatu “system” atau jaringan yang kemasan perilakunya lebih terpengaruh oleh arus kekuatan besar yang menentukan, mempengaruhi dan “mendidiknya” ke jalan yang sesat dan jahat.Melihat kenyataan tersebut, maka perlu diadakan penelitian lebih dalam mengenai pengaruh prestasi belajar Pendidikan Kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap kepribadian siswa (studi terhadap siswa kelas II di SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan). B.    Rumusan MasalahSesuai dengan latar belakang masalah, maka penulis mengidentifikasikan dan merumuskan pokok-pokok permasalahan sebagai berikut :1.      Apakah prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga berpengaruh terhadap kepribadian siswa SMK Darut Taqwa di Sengonagung Purwosari Pasuruan.2.      Variabel         manakah dari variabel-variabel prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga yang berpengaruh terhadap kepribadian siswa SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwasari Pasuruan secara parsial C.    Tujuan Penelitian1.      Untuk mengetahui pengaruh prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap kepribadian siswa SMK Darut Taqwa di Sengonagung Purwosari Pasuruan2.      Untuk mengetahui variabel-variabel prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga yang berpengaruh terhadap kepribadian siswa SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan secara parsial D.    Manfaat PenelitianPenelitian ini di harapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut.1.      Bagi lembaga SMK Darut Taqwa.Sebagai bahan masukan dalam mengembangkan dan mendidik siswa terutama melalui pendidikan kewarganegaraan2.      Sebagai sarana untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan berfikir kritis dalam dunia pendidikan3.      Sebagai bahan masukan bagi peneliti yang lain yang akan melakukan penelitian dengan topik yang sama.
BAB IITINJAUAN PUSTAKA A.     Tinjauan EmpirikPengaruh prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap kepribadian siswa (studi terhadap siswa kelas II SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan) sebagai tindak tanjut dari penelitian tentang korelasi antara tingkah laku dengan prestasi belajar PPKn siswa kelas II di MTs. Watukosek Gempol Pasuruan. B.    Tinjauan Teoritis          1.      Prestasi Belajara.      Pengertian Prestasi BelajarDalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami murid sebagai anak didik.

6

Menurut Abu Ahmadi dan Widodo Sepriyono (2003: 138) prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya, baik dari dalam (faktor internal) maupun dari luar (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar penting sekali. Artinya dalam rangka membantu murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (2005: 845) prestasi belajar adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah yang bersifat kognitif dan biasanya dituangkan melalui pengukuran dan penilaian yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya yang ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh  guru.  b.     Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi BelajarMenurut Sutoyo Natawijaya (1979: 8) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat digolongkan menjadi 21)     Faktor internalFaktor internal dapat digolongkan menjadi 2, yaitu :a)     Faktor yang bersifat biologis, meliputi :-        Kesehatan-        Cacat badanb)     Faktor yang bersifat psikologis, meliputi :-        Cita-cita-        Minat dan bakat-        Intelegensi
2)     Faktor eksternala)     Lembaga keluargab)     Lembaga sekolahc)      Lembaga masyarakatMenurut Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono (2003: 138) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar digolongkan menjadi 41)     Faktor Jasmani baik yang bersifat baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, misalnya : pendengaran, penglihatan, struktur tubuh, dan lain-lain2)     Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh terdiri atas a)     Faktor inetelektif yang meliputi-          Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat-          Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimilikib)     Faktor non intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, motivasi, minat, emosi, dan penyesuaian diri3)     Faktor kematangan fisik maupun psikis yang terdiri atas :a)     Faktor sosial yang meliputi-          Lingkungan keluarga-          Lingkungan sekolah-          Lingkungan masyarakat-          Lingkungan kelompokb)     Faktor budaya seperti -          Adat istiadat -          IIPTEK-          Kesenianc)      Faktor lingkungan fisik seperti-          Fasilitas belajar-          Iklim-          Fasilitas rumah4)     Faktor lingkungan spiritual atau keamanan 2.      Pendidikan Moral dalam Pendidikan Kewarganegaraan a.      Pengertian PendidikanPada umumnya orang merasa mengerti tentang apa pendidikan. Persoalan mengenai pendidikan itu demikian luas dan dalam sehingga para ilmuan memandangnya sebagai suatu bidang kajian khusus, sebagai suatu disiplin ilmu sendiri yang untuk pengkajian dan pendalamannya diperlukan suatu studi yang khusus pula. Mengenai pengertian pendidikan itu sendiri dapat kita temukan berbagai definisi, tergantung dad sudut pandang mana kita akan mengkajinya. Akan tetapi pada umumnya tiada yang berbeda pendapat, bahwa pendidikan itu pada dasarnya merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan dengan maksud agar anak atau orang yang dihadapi itu akan meningkat pengetahuannya, kemampuannya, akhlaknya, bahkan juga seluruh pribadinya.Menurut Crow and Crow (Dasar-dasar Pendidikan, 1995: 4) pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan membantu meluruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi.Menurut Prof. Recheh (Pengantar dasar-dasar pendidikan, 1980: 4) pendidikan adalah suatu aktifitas sosial (yang esensial) yang memungkinkan masyarakat yang komplek, modern. Fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan kelembaga dengan pendidikan formal; yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah.Menurut H. Abu Ahmadi (1991: 70) pendidikan pada hakekatnya suatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keluarga agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus.Menurut John Dewey (Ilmu Pendidikan, 1991: 70) pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-percakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.Menurut Fuad Hasan (1995: 5) pendidikan dapat diartikan sebagai berikut:5)     Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan6)     Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam pertumbuhannya7)     Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang dikehendaki oleh masyarakat 8)      Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju kedewasaanPendidikan luas bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan YME, dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UUSPN No. 2 Tahun 1989 Pasal 4). b.     Pendidikan MoralMenurut Salamoen (2003: 09) moralitas atau moral adalah istilah yang berasal dari bahasa latin mos yang berarti cara hidup atau kebiasaan. Morole dalam bahasa Inggris dapat diartikan sebagai semangat atau dorongan batin dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu, dan moral ini dilandasi nilai-nilai tertentu yang diyakini oleh seseorang sebagai sebagai suatu yang baik atau buruk, sehingga bisa membedakan mana yang patut dilakukan dan mana yang tidak patut dilakukan.Moral dalam pengertian umum menaruh penilaian dalam karakter atau sifat-sifat individu yang khusus, diluar ketaatan kepada peraturan dan moral merujuk kepada tingkah laku yang bersifat spontan, seperti rasa kasih, murah hati, kebesaran jiwa, dan lain sebagainya. Tingkat moralitas seseorang akan dipengaruhi oleh latar belakang budaya, budi, pengalaman dan karakter individu.Menurut Syarkawi (2006: 34) pendidikan moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah segala hal yang berurusan dengan sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etika yang berasal dari sumber tradisi atau adat agama, atau idiologi.Selain itu Syarkawi (2006: 38) menyatakan bahwa pendidikan moral bertujuan membina terbentuknya perilaku moral yang baik bagi setiap orang artinya pendidikan moral bukan sekedar memahami tentang aturan benar dan salah atau mengetahui tentang tuntunan baik dan buruk, tetapi harus benar-benar meningkatkan perilaku moral seseorang,Menurut Tim Dosen UNISMA (1998:41) pendidikan moral adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh anak sejak masa analisa hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan.Menurut Frankena (dalam buku Pembentukan Kepribadian Anak, 2006: 48) mengemukakan tujuan pendidikan moral :1)     Mengusahakan suatu pemahaman pandangan moral dalam mempertimbangkan tindakan-tindakan tindakan-tindakan dan penetapan keputusan2)     Membantu mengembangkan keputusan yang fundamental, ide atau nilai-nilai suatu pijakan untuk pembangunan moral dalam menerapkan suatu keputusan3)     Membantu mengembangkan kepercayaan pada norma-­norma konkrit nilai-nilai kebaikan4)     Mengembangkan suatu kecenderungan untuk melakukan suatu yang secara moral baik dan benar5)     Meningkatkan refleksi otonomi, pengendalian dari atau kebebasan mental spiritual, meskipun itu disadari dapat membuat orang menjadi pengkritik terhadap ide-ide dan prinsip-prinsip yang sedang berlaku.Demikianlah perilaku moral anak, seringkali lebih hebat ketimbang perilaku moral orang tuanya. Oleh karena itu, dalam moralitas sebaiknya orang tua mampu mendengarkan dan mengakui kehebatan moralitas anak-anak mereka yang masih polos dan tak terpengtaruh oleh keserakahan atas keinginan pribadinya. Pemikiran moral yang baik ini perlu memperoleh dukungan yang memadai dari orang-orang terdekatnya agar terus tumbuh dan berkembang membentuk kepribadiannya yang luhur dan terpuji. Jika dukungan dari orang-orang terdekatnya tidak memadai atau bahkan cenderung menghambatnya, maka pemikiran moralitas mereka akan menjadi macet dan tidak berkembang sehingga kepribadiannya menjadi gagal menuju kemuliaan manusiawi. c.      Pendidikan KewarganegaraanUnsur penting suatu negara yang lain adalah rakyat. Tanpa rakyat maka negara itu hanya ada dalam angan-angan. Termasuk rakyat suatu negara adalah meliputi semua orang yang bertempat tinggal di dalam wilayah kekuasaan Negara tersebut dan tunduk pada kekuasaan negara tersebut. Dalam hubungan ini rakyat diartikan sebagai kumpulan manusia yang dipersatukan oleh suatu rasa persatuan dan yang bersama sama mendiami suatu wilayah tertentu.Menurut Musthafa Kamal (2002:2-3) pelajaran kewarganegaraan diwajibkan di lembaga pendidikan dengan tujuan untuk mengembangkan aspek kepribadian siswa, suatu aspek yang paling fundamental dalam kehidupan manusia, serta menjadi dasar dan landasan bagi semua aspek lainnya. Pendidikan kewarganegaraan yang berhasil, akan membuahkan sikap mental bersifat cerdas, penuh tanggung jawab dengan perilaku sebagai berikut:a.      Beriman dan bertaqwa kepada Allah – Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Kuasa, serta menghayati nilai-nilai Pancasilab.      Berbudi pekerti luhur, berdisiplin dalam bermasyarakat, ber­bangsa dan bernegarac.      Bersikap rasional, dinamis dan sadar akan hak-hak dan kewajiban­nya sebagai warganegarad.      Bersikap profesional yang dijiwai oleh kesadaran bela negara e.      Aktif memanfaatkan ilmu dan teknologi serta seni untuk kepentingan kemanusiaan, bangsa dan NegaraSelain itu Musthafa (2002:6) berpendapat bahwa melalui Pendidikan Kewarganegaraan, warga negara Indonesia diha­rapkan mampu memahami, menganalisis dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat, bangsa dan negaranya secara berkesinam bungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional seperti yang digariskan dalam Pembukaan UUD 1945. Adapun untuk menentukan siapa yang menjadi warga negara, digunakan kriteria-kriteria tertentu yang dirumuskan oleh undang-undang negara yang menganut 2 asas, yaitu asas tempat kelahiran (ius soli) dan asas keturunan (ius sanguinis). Di Indonesia, siapa-siapa yang menjadi warga negara telah disebutkan di dalam pasal 26 UUD 1945, yaitu :a.      Yang menjadi warga negara ialah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga Negarab.      Syarat-syarat mengenai kewarganegaraan ditetapkan dengan undang-undangUndang-Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan 2 menegaskan :“Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran dan pemerintah mengusahakan dan memyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang” Dengan pasal ini, bahwa pemerintah berupaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan hak yang sama dalam memperoleh pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.Karena pendidikan kewarganegaraan merupakan aspek terpenting dari pendidikan Pancasila dan bukan aspek pengetahuan. Sehingga tujuan akhirnya ialah kemampuan menghayati dan mengamalkan Pancasila, bersikap dan bertindak menurut ketentuan moral Pancasila dan hidup sesuai dengan norma-norma Pancasila.Menurut Bambang Daroeso (1986:57) menyatakan bahwa “pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan adalah suatu bidang studi yang mempunyai kedudukan strategis dalam membina perilaku warga negara, sehingga warga negara tersebut mempunyai sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan moral Pancasila”.Untuk mengerti atau bisa memahami pendidikan kewarganegaraan secara baik dan benar tidaklah cukup dengan belajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, tetapi siswa perlu mengetahui sejarah atau latar belakang timbulnya Pendidikan Kewarganegaraan yang berupa penanaman ideologi Negara kepada warga negara dengan tujuan agar menjadi warga negara yang baik dapat diwujudkan. Pada tahun 1959 mulai diperkenalkan apa yang disebut Civics dengan buku pedoman yang dikeluarkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul “Civics Masyarakat Indonesia Baru” karangan Supardjo dkk, yang diberikan kepada sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Namun, masih banyak mempunyai kelemahan dimana memakai metode indoktrinasi yaitu ajaran yang diberikan harus diterima isinya maupun hal-hal yang ada didalamnya salah satu benar diterima tidak boleh dibantah.Pada tahun 1962, istilah civics diganti dengan mata pelajaran Kewarganegaraan dimana istilah tersebut atas anjuran Supardjo, dimana tujuannya adalah untuk membentuk warga negara yang baik. Pada tahun 1965 timbul istilah Pancasil sebagai dasar negara, Pancasila sebagai jiwa dan kepribadian bangsa, Pancasila sebagai perjanjian luhur dan cita-cita moral serta sebagai tujuan hidup.Pada tahun 1968 Kewargaan negara dimuat dalam kurikulum 1968 yang kemudian diganti dengan Pendidikan Kewarganegaraan atau disingkat PKN. Pada masa ideologi Pancasila dijadikan sebagai pokok bahasan tetapi lebih cenderung pada mata pelajaran tata negara dan sejarah perjuangan bangsa, sedangkan aspek moral belum kelihatan.Pada masa ini metode yang digunakan bukan metode indoktrinasi tetapi mamakai pesan atau petuah, sedangkan mated atau sumber mengarah pada Undang-Undang Dasar 1945, Ketetapan MPR Sementara XX/MPRS/1966, Ketetapan MPRS tahun 1967 dan ketetapan MPRS tahun 1966.Usaha pemerintah dalam merealisasikan pendidikan telah mengeluarkan ketetapan MPR Nomor II/MPR/1993, tentang GBHN dimana isinya sebagai berikut :“Untuk mencapai tujuan nasional maka setiap jenjang sekolah mulai dari Taman Kanak-kanak sampai Perguruan Tinggi harus diberikan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan unsur-unsur yang cukup untuk mewariskan jiwa dan nilai-nilai 1945 kepada generasi muda”. Dengan demikian jelas lahirnya Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sejak 1945, tetapi pada tahun 1993 kenyataan masih berlaku kurikulum 1984 yang isinya ketinggalan jaman. Karena itu pemerintah berusaha untuk membuat kurikulum baru yang dapat memenuhi kebutuhan zaman dan hasilnya adalah kurikulum 1993 dan disempurnakan menjadi kurikulum yang sekarang ini dipakai kurikulum 1995. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan bidang studi yang berdiri sendiri, dengan demikian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan bidang ilmu tersendiri.Artinya pendidikan budi pekerti tidak diajarkan melalui mata pelajaran khusus dalam alokasi jam pelajaran tertentu. Akan tetapi, terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran yang diajarkan dan nilai-nilainya dipraktekkan atau ditanamkan oleh semua guru di sekolah melalui seluruh tindak tanduknya, baik di dalam maupun di luar kelas. Walaupun demikian, mata pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan (pendidikan kewarganegaraan) diharapkan dapat menjalankan tugas pendidikan budi pekerti. 3.      Keluarga dan Fungsinya a.      Pengertian KeluargaMenurut M. Arifin Hakim (2000: 41) keluarga adalah unit satuan masyarakat yang terkecil sekaligus merupakan kelompok kecil dalam masyarakat.Menurut KH Damhur (dalam buku Ilmu Sosial Dasar, 2001: 41) menyatakan bahwa keluarga adalah kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu keturunan lalu mengerti sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.Menurut Kartini Kartono (1997: 59) keluarga merupakan persekutuan primer dan alami diantara seorang pria dengan seorang wanita yang diikat dengan tali perkawinan dan curah kasih dan mereka saling ketergantungan, saling membutuhkan dan saling melengkapi.Menurut Wahyu MS (1986:57) menyatakan keluarga sebagai suatu kesatuan sosial terkecil yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial. Pendapat ini didasarkan atas kenyataan bahwa sebuah keluarga sebagai suatu satuan kekerabatan yang juga merupakan tempat tinggal yang ditandai oleh adanya kerjasama dan mempunyai fungsi untuk berkembang biak mensosialisasikan atau mendidik anak dan menolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat orang-orang yang tua mereka yang telah jompo.Menurut Soelaeman (2001: 6) istilah keluarga diartikan sebagai keluarga besar yang disamping ayah, ibu anak termasuk pula keluarga paman, bibi, kakek, nenek, cucu, mertua, ipar, keponakan, misanan dan sebagainya yang kadang-kadang dinamai dengan istilah kerabat, sedangkan dalam arti sempit keluarga yang didasarkan pada hubungan darah yang ditandai atas ayah, ibu, anak dengan istilah keluarga inti. Keluarga inti menurut Maciver dan page dalam buku pendidikan dalam keluarga (2001: 9) menyebutkan bahwa keluarga ini mempunyai 5 ciri khas.1)     Adanya hubungan berpasangan antara kedua jenis (pria dan wanita)2)     Dikukuhkan dalam sebuah pernikahan3)     Adanya pengakuan anak yang dilahirkan dalam rangka hubungan tersebut4)     Adanya kehidupan ekonomis yang diselenggarakan secara bersama Sedangkan menurut M. Ishom Ihsan (1996: 28) keluarga sebagai salah satu satuan pendidikan memiliki kontribusi yang bermakna dalam pembentukan efektif anak. Selain itu, M. Ishom Ihsan (1990: 28) menyatakan keluarga adalah persekutuan hidup yang dijalin kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang dimaksud untuk saling menyempurnakan diri terkandung maksud peran dan fungsi sebagai orang tua.b.     Fungsi KeluargaBerfungsinya keluarga merupakan keselamatan dan kelangsungan kehidupan keluarga, pengukuhan ataupun pengabdian. Fungsi-fungsi itu banyak pengaruhnya terhadap pelaksanaan peran-peran keluarga secara kesatuan maupun secara individual oleh masing-masing anggota keluarga yang bersangkutan.Menurut M. Soelaeman (2001: 81) fungsi keluarga adalah sebagai berikut:1)     Fungsi EdukasiFungsi edukasi adalah fungsi keluarga yang berkaitan dengan pendidikan anak khususnya dan pendidikan serta pembinaan anggota keluarga pada umumnya 2)     Fungsi sosialisasiFungsi sosialisasi ini merupakan fungsi orang tua dalam upaya membantu dan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Dalam rangka melaksanakan fungsi sosialisasi itu keluarga menduduki kedudukan sebagai penghubung anak dalam kehidupan sosial dan norma-norma sosial.3)     Fungsi perlindunganFungsi perlindungan yaitu melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik dan dari hidup yang menyimpang dari norma, dengan kata lain agar anak terlindungi dan merasa aman.4)     Fungsi perasaanDalam pelaksanaan fungsi perasaan terutama ibulah yang memainkan peranan amat penting. Lebih pada saat anak itu masih kecil, anak menimbulkan rasa kebersamaan yang menjiwai anggota berkumpulnya anggota keluarga itu.5)     Fungsi religiusArtinya keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak serta anak dan anggota keluarga lainnya kepada kehidupan bergama, supaya menjadi insan beragama
6)     Fungsi ekonomisFungsi ekonomis keluarga meliputi pencarian nafkah perencanaan serta perbelanjaannya dan pemanfaatannya.7)     Fungsi rekreasiFungsi rekreasi dirasakan keluarga apabila ia menghayati suasana yang tenang, damai, jauh dari ketegangan batin segar dan santai dan kepada yang bersangkutan memberikan perasaan bebas terlepas dari ketegangan dan kesibukan sehari-hari 8)      Fungsi biologisFungsi biologis merupakan pemenuhan kebutuhan­ kebutuhan biologis keluarga, diantaranya : kebutuhan akan perlindungan fisik guna melangsungkan kehidupannya termasuk rasa lapar haus, dingin, kelelahan dan seksual.Sedangkan menurut M. Arifin Hakim (2001: 41) fungsi keluarga adalah sebagai berikut:a)     Fungsi biologisb)     Fungsi pemeliharaanc)      Fungsi ekonomid)     Fungsi sosial keagamaan        Menurut Tim Dosen Unisma (1998: 39) dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap pendidikan anaknya meliputi:a)     Dorongan/motivasi cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dengan anak. Cinta kasih ini mendorong sikap dan tindakan rela menerima tanggung jawab dan mengabdikan hidupnya untuk sang anak.b)     Dorongan/motivasi kewajiban moral, sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya. Tanggung jawab moral ini meliputi nilai-nilai religius spiritual yang dijiwai Ketuhanan Yang Maha Esa, dan agama masing-masing di samping didorong oleh peredaran memelihara martabat dan kehormatan keluarga.c)      Tanggung jawab social sebagai bagian dari keluarga, yang pada gilirannya juga menjadi bagian dari masyarakat, bangsa, Negara, bahkan kemanusiaan.c.      Hubungan Orang Tua, Anak dan SekolahGBHN dan UU No 2/1989 menetapkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat. Ketiga pihak ini mempunyai tanggung jawab yang sama dalam membimbing anak-anak melalui upaya pendidikan. Dalam ketiga pokok ini mempunyai tujuan yang sama guna mempersiapkan anak dari generasimuda di masa yang akan datang.Menurut M. Suryo (2003: 25) hubungan orang tua anak dan sekolah dapat terwujud dengan baik apabila antara pihak orang tua dan guru ada keterkaitan dan pendanaan dalam kegiatannya sehingga mencapai tujuan yang efektif, komunikasi antara orang tua, guru, dan siswa merupakan dasar bagi terwujudnya komunikasi.Akan tetapi menurut M. Soelaeman (2001: 66) menyatakan bahwa orang tua akan tampil sebagai pelindung dan pengayom putra-putranya, didasari kasih sayang. Dan dalam pelaksanakan hubungan dengan putra-putranya mereka banyak memperhatikan dan menyelaraskan tindak-tanduknya dengan keberadaan serta karakteristik khususnya sebagai yang sedang berkembang menuju kedewasaan.Hubungan orang dan guru (1999: 106) Mulyono Abd. Rohman dalam meyakini hubungan dengan orang tua, sekolah perlu menyelenggarakan antara orang tua dan guru, pertemuan orangtua – guru dapat menjadi suatu jembatan antara rumah dan sekolah. Pertemuan orang trua hendaknya dipandang oleh kedua belah fihak sebagai wahana untuk membantu anak. Dalam menyelenggarakan suatu pertemuan guru hendaknya berusaha meyakinkan orang tua bahwa mereka akan diajak berkomunikasi, dalam hubungan antar manusia, bukan hubungan dengan system yang impersonal. Guru hendaknya memperlihatkan perhatian mereka terhadap anak dan penghargaan terhadap orang tua dan bukan memperlihatkan kesombongan.Menurut Kartini Kartono (1997: 59) salah satu tugas utama orang tua adalah mendidik keturunannya, tercakup unsur pendidikan yang membangun kepribadian anak dan mendewasakan, ditambah dengan adanya keyakinan untuk dapat dididik pada diri anak, maka orang tua menjadi agen utama dan pertama yang mampu dan berhak menolong keturunannya, serta wajib mendidik anak-anaknya.­Mulyono Abd Rohman (1999: 106) dalam meyakini hubungan dengan orang tua, sekolah perlu menyelenggarakan antara orang tua dan guru, pertemuan orang tua – guru dapat menjadi suatu jembatan antara rumah dengan sekolah.Pertemuan orang tua hendaknya dipandang oleh kedua belah pihak sebagai wahana untuk membantu anak. Dalam menyelenggarakan suatu petemuan guru hendaknya berusaha meyakinkan orang tua bahwa mereka akan diajak berkomunikasi, dalam hubungan antar manusia, bukan hubungan dengan sistem yang impersonal. Guru hendaknya memperlihatkan perhatian mereka terhadap anak dan penghargaan terhadap orang tua dan bukan memperlihatkan kesombongan.Menurut Tim Dosen Unisma (1998: 36) hubungan antara anggota keluarga yang baik yang ditandai dengan suasana kebersamaan, keterlibatan yang intensif dan dukungan orang tua yang memadai, merupakan wahana latihan yang alami bagi anak, anak dapat berlatih bagaimana bergaul dan berbicara dengan orang lain dalam suasana wajar. 4.      Kepribadiana.      Faktor yang Mempengaruhi KepribadianMenurut S. Zarkawi (2006:11) kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang ditemui dari lingkungannya.Menurut Paul Guradi (2005) dalam buku pembentukan kepribadian anak (2006:11) menyatakan ada 5 penggolongan kepribadian yang serius dikenal dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai berikut:1)     Tipe Sanguin.Yang termasuk tipe ini memiliki ciri sebagai berikut:a)     Banyak kekuatan, bersemangat, mempunyai gairah hidup dapat membuat lingkungannya gembira. b)     Cenderung impulsif, bertindak-sesuaian dengan emosinya dan mudah dipengaruhi lingkungannya.
2)     Tipe Hegmatika)     Cenderung tenang, gejala emosinya tidak tampak, dapat menyesuaikan diri dengan baik.b)     Cenderung egois, tidak mau berkorban untuk orang lain. 3)     Tipe Mekankolika)     Terobsesi dengan karyanya yang bagus, mensyukuri estetika keindahan hidup, perasaannya kuat, sensitif.b)     Mudah dikuasai oleh perasaan. 4)     Tipe Kolerika)     Cenderung berorientasi pada pekerjaan, mempunyai disiplin kerja yang tinggi, setia, tanggung jawab.b)     Kurang mampu merasakan perasaan orang lain, kurang mampu merasakan kasihan orang lain dan kurang bermain.5)     Tipe Asertifa)     Mampu menyatakan pendapat, ide secara tegas, kritis, perasaannya halus, jujur, terbuka.b)     Tidak banyak kelemahan.Menurut Gregory (2005) dalam buku Pembentukan Kepribadian Anak (2006:13) kepribadian adalah ciri khas bagi pribadi, sedangkan gaya kepribadian bisa dimiliki oleh orang lain yang juga menjauhkan kombinasi yang berulang-ulang secara khas atau dinamis dari ciri pembawaan dan kelakuan yang sama.Gregory juga menyatakan ada 12 gaya kepribadian: 1)     Mudah menyesuaikan diri2)     Berambisi3)     Mempengaruhi.         4)     Berprestasi.   5)     Idealis.            6)     Sabar.            7) Mendahului.   8)      Perseptif.       9)     Peka.  10) Berketepatan.            11) Ulet.    12) Berhati-hati.   b.     Hubungan Kepribadian dengan MoralKepribadian yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap akhlak, moral, budi pekerti dan etika. Dalam kehidupan sehari-hari seseorang harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain dimanapun berada. Artinya etika, moral yang dimiliki akan menjadi landasan perilaku seseorang sehingga tampak dan membentuk menjadi budi pekerti sebagai wujud kepribadian.Menurut Tim Dosen Unisma (1998:42) apabila kepribadian/tabiat anak itu termasuk tipe yang pasif dan menyerah, maka ia akan hidup sebagai orang bodoh dan dungu hidupnya seperti mati, bahkan keberadaannya seperti tidak ada. Dan apabila kepribadiannya termasuk tipe yang aktif dan proresif, ia akan sombong dan takabur dihadapan umat manusia, menonjolkan kekuasaan dan kesewenang-wenangan terhadap orang-orang kecil akan bangga dengan pembicaraan dan perbuatannya.Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah memandang bagaimana manusia harus hidup agar menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara moral dan kepribadian pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi, misalnya sebagai siswa, suami, atau istri. Jadi kebaikan moral mengarah kepada kebaikan manusia sebagai manusia yang tidak berembel-embel apapun dalam memandang manusia. Oleh karena itu kebaikan moral mengandung nilai-nilai universal tentang kemanusiaan. C.    HipotesisRumusan hipotesis ini adalah sebagai berikut :1.      Dapat diduga variabel prestasi belajar kewarganegaraan berpengaruh terhadap kepribadian siswa kelas II SMK Danat Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan.2.      Dapat diduga bahwa variabel latar belakang keluarga berpengaruh terhadap kepribadian siswa kelas II SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan.
BAB IIIMETODE PENELITIAN A.     Rancangan PenelitianRancangan penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dalam menjelaskan hubungan antara variabel bebas yang terdiri dari prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap variabel terikat yaitu kepribadian sesuai di SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan. B.    Populasi dan Sampel1.      Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMK Darut Taqwa Sengonagung yang berjumlah 200 siswa2.      Mengingat populasinya homogen maka dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling atau sample acak sederhanaMenurut suharsini Arikunto (1998:120) teknik ini dalam pengambilan sampelnya penelitian mencampur subjek-subjek di dalam populasi sehingga sehingga semua seubjek-subjek dianggap sama. C.    Teknik Pengumpulan Data

33

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu untuk data utama dikumpulkan dengan cara menyebarkan kuoesioner kepada 200 responden serta dengan melakukan wawancara dengan siswa di SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan.Agar data yang diperoleh mempunyai tingkat akurasi dan konsistensi yang tinggi, maka instrumen penelitian yang digunakan harus valid dan reliabel. Untuk itu tahap instrumen penelitian yang dipakaiakan diadakan uji validitas dan uji reabilitas. D.    Validitas dan Reabilitas 1.      Uji ValiditasUji validitas dilakukan dengan cara mengkorelasikan scor masing-masing butir pertanyaan pada tiap-tiap variabel dengan scor totalnya, dengan menggunakan rumus product moment dari Pearson.Dimanar = Koefisisen korelasi N = Jumlah sampleX = Nilai scor pertanyaan Y = Nilai scor totalKoesioner dinyatakan valid jika koesien korelasi lebih besar dari nilai korelasi yang tercantum pada tabel pada alpha = 5% 2.      Uji ReliabilitasPengujian reliabilitas dilakukan dengan cara yaitu membelah menjadi dua bagian yaitu ganjil dan genap, selanjutnya skor total dari masing-masing bagian tersebut di korelasi dengan rumus product moment sebagai berikutDi manarsh        = realibilitasrpm     = koefisien korelasi product momentKorelasi dinyatakan realiabel jika nilai koefesien korelasi lebih besar dad nilai korelasi yang tercapai pada alpha = 5% E.     Variabel dan Pengukur 1.      VariabelDalam penelitian ini digunakan 3 jenis variabel yaitu : 2 variabel bebas = X dan 1 variabel terikat = YVariabel bebas X yang diteliti adalah pengaruh pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluargaX1 = Tingkat kedisiplinan X2 = Semangat kebangsaan X3 = Etika dalam moralX4 = Latar belakang keluargaX5 = Hubungan anak dengan keluarga Sedangkan variabel (Y) adalah kepribadian siswa.2.      Pengukurana.     Variabel bebas (x) X1 = Kedisiplinan Menurut Bambang Suteng (2004:43) kedisiplinan merupakan latihan batin dan watak dengan maksud supaya segala perbuatan selalu mentaati tata tertib. X2 = Semangat kebangsaanMenurut M. Surya (2003:16) semangat kebangsaan merupakan kesadaran pemahaman akan jati diri khas Indonesia yang di hargai sebagai rujukan prilaku sebagai bangsa yang bersumber dari nilai-nilai filafat Pancasila. X3 = MoralitasMenurut Salamoen Soeharyo(2003:9) moralitas merupakan dorongan batin dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu yang dilandasi nilai-nilai tuntunan yang diyakini seseorang sebagai suatu yang baik atau buruk. X4 = Latar belakang keluargaMenurut William dalam buku membangun visi baru bernegara (2000:24) menyebutkan ketidak harmonisan keluarga, bisa pula “Keluarga Selapis Kosong” yakni sebuah keluarga, dimana suami istri tinggal bersama sebagai pasangan resmi, tetapi tidak saling menyapa dan memberikan dukungan emosinal satu dan lainnya X5 = Hubungan anak dengan keluargaMenurut M. Surya (2003:25) hubungan orang tua, anak dan sekolah dapat terwujudkan dengan baik apabila pihak orang tua dengan sekolah ada keterkaitan pendanaan dalam kegiatannya. Sehingga mencapai tujuan yang efektif antara orang tua, guru dan siswa. b.     Variabel terikat - KepribadianMenurut koeswara dalam buku pembentuk kepribadian anak (2006:17) kepribadian adalah suatu istilah yang mengacu pada gambaran-gambaran sosial tertentu yang diterima oleh individu dari kelompoknya atau masyarakatnya. Kemudian individu tersebut diharapkan bertingkah laku berdasarkan gambaran sosial yang diterimanya. 
F.     Analisis DataData yang telah terkumpul setelah uji validitas dan reabilitasnya akan dianalisis secara deskriptif dan referensial. Teknik uji validitas dengan menggunakan kaidah product moment (r) sedangkan uji reliabilitas instrumen yaitu dengan melihat nilai alpha Crombach untuk melengkapi hipotesa yang diajukan dalam penelitian dan menganalisa data secara keseluruhan digunakan metode statistik program SPSS 12.00 for Windows.1.      Degresi linier berganda.Adapun degresi linier berganda dengan formulasinya sebagai berikut.Y=a+b1×1 +b2×2+b3×3+b4×4+b5×5+E Dimana:Y          = Kepribadian siswaX1       = Tingkat kedisiplinanX2       = Semangat kebangsaanX3       = Etika dan moralX4       = Latar belakang keluargaX5       = Hubungan orang tua, anak disekolah a          = konstanta.E         = Error2.      Uji FUntuk mengetahui ada tidaknya pengaruh semua variabel bebas (X1, X2, X3, X4, dan X5) secara simultan (bersama-sama) terhadap variabel terikat (Y) digunakan uji dengan rumus sebagai berikut :DimanaF = Nilai F hitungR2 = Koefisien determinan K = Jumlah variabel bebas N = Jumlah sampelHipotesis statistic dirumuskan : 1)     Ho: B1 = 02)     Ho: B1  ¹ 0Pengujian hipotesis dengan membandingkan antara probalitas dengan a = 0,05 dengan kriteria sebagai berikut :a.      Apabila probalitas dari tabel anova a<0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.b.      Apabila probalitas dari table anova >0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak.Penerimaan terhadap Ho berarti variabel yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap variabel terikat sedangkan penolakan terhadap Ho berarti variabel bebas yang diuji mempunyai pengaruh nyata terhadap variabel terikat.3.      Uji tUntuk mengetahui pengaruh nyata secara parsial (terpisah) antara variabel bebas (X1, X2, X3, X,4 dan X5) terhadap variabel terikat (Y) digunakan uji t. Menurut Supranto (1995 : 252 ) dengan rumus sebagai berikut:Dimana :t           = Besarnya t hitungb          = Koefisien regresi / bobot regresib          = Probalitas IntervalSb       = Standar error / standar DeviasiUntuk mengetahui pengaruh variabel independen (X1, X2, X3, X,4 dan X5) secara terpisah terhadap variabel dependen (Y) dapat dilihat tabel coefficient yang mencantumkan angka probabilitas dalam menguji hipotesis statistik yang dirumuskan sebagai berikut:Ho: b1= b2 = b3 = b4 = 0: berarti variabel bebas (X1, X2, X3, X,4 dan X5) secara terpisah tidak berpengaruh terhadap variabel terikat (Y).Ha: b1 # b2 # b3 # b4 # 0: berarti variabel bebas (X1, X2, X3, X,4 dan X5) secara terpisah berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat (Y).Pengujian hipotesis dilakukan dengan membandingkan antara probabilitas dengan a = 0,05 dengan kriteria sebagai berikut: 1)     Apabila probalitas dalam uji t hitung < t tabel. maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti variabel X1, X2, X3, X,4 dan X5 tidak berpengaruh terhadap variabel (Y).2)     Apabila probalitas dalam uji t hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti variabel X1, X2, X3, X,4 dan X5 berpengaruh terhadap variabel (Y). Untuk mengetahui gambaran umum daerah penerimaan dan daerah penolakan hipotesis nol (H0), maka akan digambarkan dengan kriteria pengujian sebagai berikut :Ho diterima dan Ha ditolak jika thitung < ttabel Ho ditolak dan Ha diterima jika thitung < ttabel
KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunianya akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul pengaruh prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap kepribadian siswa (Studi terhadap siswa SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan)Tujuan penulisan tesis ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh prestasi belajar pendidikan kewarganegaraan dan latar belakang keluarga terhadap kepribadian siswa.Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan kebenaran bagi seluruh umat manusia.Sehubungan dengan itu penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :1.            Bapak Rektor Universitas Kanjuruhan Malang, yaitu Bapak Drs. Moch. Amir Sutedjo, SH, M.Pd2.            Direktur Program Pascasarjana Universitas Kanjuruhan Malang, yaitu Bapak Prof. Dr. H. Bambang Swasta, ME3.            Bapak Ibu Dosen yang telah memberikan bekal ilmu di program pascasarjana Universitas Kanjuruhan Malang4.            Bapak Drs. Saifulloh, M.HI selaku Kepala Sekolah SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan5.            Rekan-rekan penulis yang telah banyak memberikan bantuan ikut berperan dalam memperlancar penelitian dan penulisan tesis ini6.            Sujud dan terimakasih yang dalam penulis persembahkan kepada ibunda dan ayahanda tercinta atas dorongan yang kuat, kebijaksanaan dan doa7.            Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada istri tercinta Siti Wahda yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian serta saran-saran yang bermanfaat demi kesempurnaan tesis ini.Akhirnya harapan penulis adalah tegur sapa, kritik, dan islah terhadap penulisan tesis ini karena keterbatasan dan kekurang sempurnaan penulis selaku manusia yang lemahSemoga amal baik bapak dan ibu dosen serta sahabat sekalian mendapat balasan dari Allah SWT dan semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua. Amin. Pasuruan, 25 November 2007 Penulis
DAFTAR PUSTAKA Ahmadi A.H. Drs. Dan Uhbiyati N. Dra. (1991) Ilmu Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaAhmadi Drs. H. Abu dan Supriyono, Drs. Widodo. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka CiptaArifin Hakim. M. (2001) Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung : Pustaka SatyaArikunto. Prof. Dr. Suharsini (1998) Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka CiptaIhsan F. Drs.  (1995) Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka CiptaIrfan. Muhammad dan Abdul Wahid (2000) Membangun Visi Baru Bernegara. Jakarta Fariz Putra PerdanaKartono. Dr. Kartini. 1997. Tinjauan Holistik mengenai Tujuan Pendidikan Nasional. Jakarta : PT. Pragnya ParamitaMS. Drs. Wahyu (1986) Wawasan Ilmu Sosial Dasar. Surabaya: Usaha NasionalMulyano H. Dr. (1998) Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: PT. Rineka CiptaPasha, Musthafa Kamal. 2002. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta: Citra Karsa MandiriSjarkawi, Dr. M.Pd (2006) Pembentukan Kepribadian Anak. Jakarta : PT. Bumi AksaraSoeharyo Drs. Salamon dan Fernanda Drs. Desi M. Soc (2003) Etika Organisasi Pemerintah. Jakarta : lembaga Administrasi Negara RISoelaeman. Dr. M. I. (2001) Pendidikan dalam Keluarga. Bandung: CV. Alfa BetaSura Prof. Dr. H. M. (2003) Bina Keluarga. Semarang: Aneka IlmuSuryo Broto. Drs. B. (2001) Humas dalam Dunia Pendidikan. Yogyakarta : Mitra Guna WidyaTim Dosen IKIP Malang (2001) Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha NasionalTim Dosen UNISMA (1998) Pendidikan Keluarga dan Tantangan masa Depan. Unisma PressTim Redaksi. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. 2005. Jakarta: Balai Pustaka
KUESIONERPENGARUH PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA TERHADAP KEPRIBADIAN SISWA(Studi Terhadap Siswa Kelas II Di SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan)  Catatan :1.      Mohon data isian diisi dengan lengkap2.      Untuk jawaban saudara mohon dilakukan dengan memberikan tanda centang (Ö) di depan pilihan pada nomor yang saudara kehendaki A.     Tingkat Kedisiplinan

  1. Setelah mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan, saudara merasakan peningkatan kedisiplinan dalam masuk kelas

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu  2.      Setelah mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan saudara merasakan peningkatan kedisiplinan dalam belajar(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu   B.    Semangat Kebangsaan

  1. Setelah mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan saudara merasakan adanya peningkatan dalam nasionalisme

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Setelah saudara mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan, semangat kebangsaan anda meningkat

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu   C.    Etika dan Moral

  1. Setelah mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan, prestasi belajar saudara meningkat dan merasakan bermoral dalam segala tingkah laku

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Setelah mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan, saudara merasakan ada peningkatan prestasi belajar dan perubahan etika dalam kehidupan sehari-hari

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Dalam mengikuti pelajaran pendidikan kewarganegaraan, saudara merasa ada pengaruh dalam beretika dan bergaul dengan teman-teman sekolah

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu   D.    Latar Belakang Keluarga

  1. Fungsi Edukasi

a.      Apakah saudara mendapat teguran dari orang tua jika bolos(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah saudara diingatkan oleh orang tua jika melanggar peraturan sekolah(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara ditekan oleh orang tua dalam belajar(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Sosalisasi

a.      Apakah saudara mendapat tugas dari orang tua jika ada kegiatan masyarakat(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 
b.      Apakah saudara diwajibkan orang tua untuk mengikuti kegatan di kampung anda(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara dimarahi jika tidak ikut kegiatan sosial di kampong(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Perlindungan

a.      Apakah saudara dilindungi oleh keluarga jika mendapat ancaman dari teman-teman(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah saudara diperhatikan oleh orang tua dalam bersikap di lingkungan anda(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara mendapat pembelaan oleh keluarga jika mendapat masalah(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Perasaan

a.      Apakah saudara mendapat pujian jika berprestasi dalam belajar(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering b.      Apakah saudara mendapat kasih sayang jika sakit(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara  ditegur oleh orang tua jika menyakiti perasaan orang lain(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringd.      Apakah saudara mendapatkan limpahan kasih sayang yang banyak dari orang tua(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Religius

a.      Apakah saudara diwajibkan untuk mendalami agama oleh orang tua(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah saudara dimarahi jika tidak melaksanakan ibadah(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara mendapat teguran jika melanggar aturan agama(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Ekonomis

a.      Apakah saudara sudah tecukupi dalam bidang pendidikan(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah perlengkapan sekolah sudah terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara menggunakan uang saku untuk biaya pendidikan(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Rekreasi

a.      Apakah saudara selalu mendapatkan kebahagiaan dalam keluarga(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah saudara merasa tentram jika berkumpul dengan keluarga (    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara selalu diajak rekreasi oleh keluarga ketika liburan sekolah(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering 

  1. Fungsi Biologis

a.      Apakah saudara selalu menjaga kesehatan dalam kehidupan sehari-hari(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringb.      Apakah saudara selalu merasa sehat lahir dan batin(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Seringc.      Apakah saudara tercukupi dalam 4 sehat 5 sempurna(    ) Tidak Pernah(    ) Jarang(    ) Sangat Jarang(    ) Sering(    ) Sangat Sering E.     Hubungan anak dengan keluarga dan sekolah

  1. Setelah mengikuti pendidikan kewarganegaraan, hubungan saudara  dengan keluarga harmonis

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Setelah mengikuti pendidikan kewarganegaraan, saudara merasa bertanggung jawab terhadap keterbukaan dalam keluarga

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Setelah mengikuti pendidikan kewarganegaraan, saudara merasa yakin ada kerjasama yang baik antara keluarga dan sekolah

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu 

  1. Setelah mengikuti pendidikan kewarganegaraan, saudara membutuhkan kerjasama yang baik antara keluarga dan sekolah

(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu   
F.     Kepribadian1.      Apakah saudara termasuk tipe anak yang bersemangat bertindak sesuai dengan emosinya(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu  2.      Apakah saudara termasuk tipe anak yang tenang, egois dan tidak mau berkorban untuk orang lain(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu  3.      Apakah saudara termasuk tipe anak yang sensitif dan mudah dikuasai perasaan (   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu  4.      Apakah saudara termasuk tipe anak yang cenderung berorientasi pada pekerjaan, disiplin tinggi dan tanggung  jawab (   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu  5.      Apakah saudara termasuk tipe anak yang mampu mengatakan pendapat kritis, jujur, terbuka dan berperasaan halus(   ) Sangat setuju                              (   ) Tidak Setuju(   ) Setuju                                           (   ) Sangat tidak setuju(   ) Ragu-ragu   
PENGARUH PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DAN LATAR BELAKANG KELUARGA TERHADAP KEPRIBADIAN SISWA(Studi Terhadap Siswa Kelas II Di SMK Darut Taqwa Sengonagung Purwosari Pasuruan)    PROPOSAL TESISUntuk Memenuhi PersyaratanMemperoleh Gelar Magister Pendidikan Oleh : HASAN AS’ARINIM : 060519010137          PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIALPROGRAM PASCASARJANAUNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG2007 DAFTAR ISI  BAB I        PENDAHULUAN…………………………………………………………….. 1A.     Latar Belakang Masalah………………………………………………. 1B.     Rumusan Masalah………………………………………………………… 4C.    Tujuan Penelitian………………………………………………………….. 4D.    Manfaat Penelitian……………………………………………………….. 5BAB II       TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………….. 6A.     Tinjauan Empirik………………………………………………………….. 6B.     Tinjauan Teoritis…………………………………………………………… 61.      Prestasi Belajar………………………………………………………. 6a.      Pengertian Prestasi Belajar……………………………….. 6b.      Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar……… 72.      Pendidikan Moral dalam Pendidikan  Kewarganegaraan ………………………………………………….  9a.      Pengertian Pendidikan………………………………………. 9b.      Pendidikan Moral………………………………………………. 11c.      Pendidikan Kewarganegaraan…………………………… 143.      Keluarga dan Fungsinya …………………………………………  20a.      Pengertian Keluarga………………………………………….. 20b.      Fungsi Keluarga………………………………………………… 22c.      Hubungan Orang Tua, Anak dan Sekolah…………… 25 4.      Kepribadian……………………………………………………………. 28a.      Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian……………. 28b.      Hubungan Kepribadian dengan Moral………………… 30C.    Hipotesis……………………………………………………………………… 32BAB III      METODE PENELITIAN…………………………………………………… 33A.     Rancangan Penelitian…………………………………………………… 33B.     Populasi dan Sampel…………………………………………………… 33C.    Teknik Pengumpulan Data……………………………………………. 33D.    Validitas dan Reabilitas ……………………………………………….  341.      Uji Validitas…………………………………………………………….. 342.      Uji Reliabilitas…………………………………………………………. 35E.     Variabel dan Pengukur …………………………………………………  351.      Variabel………………………………………………………………….. 352.      Pengukuran…………………………………………………………….. 36F.     Analisis Data……………………………………………………………….. 381.      Degresi linier berganda…………………………………………… 382.      Uji F………………………………………………………………………… 383.      Uji t…………………………………………………………………………. 40 





Sugeng Rawung dateng Arif Website!

8 09 2007

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!